Rabu, 26 Desember 2012

0

Maria Serenade Sinurat

Maria Serenade Sinurat
Indonesia mungkin sudah melupakan Sin Kim Lai (52). Namun, dia menunjukkan
bahwa negara yang pada masa lalu mendiskriminasikan dirinya inilah satu-satunya
tempat dia bersandar. Lewat dunia bola basket, dia tunjukkan pengabdiannya.
Kim Lai muda adalah tulang punggung tim nasional bola basket di berbagai
kejuaraan internasional. Dengan tinggi 184 sentimeter, dia menjadi center
tangguh di lapangan tengah, baik ketika menyerang maupun bertahan.
Kala itu tahun 1978. Pembedaan terhadap warga keturunan Tionghoa masih kental.
Pengurusan kewarganegaraan yang bertele-tele membuat dia gagal mendapatkan
paspor untuk berangkat ke Kejuaraan Bola Basket Yunior Asia di Malaysia. Baru
setahun kemudian, kekecewaan itu terbayar saat dia kembali diturunkan dalam SEA
Games 1979 di Jakarta.
Basket menjadi pusat kehidupan Kim Lai. Selepas pensiun sebagai pemain tahun
1983, dia memutuskan menjadi pelatih. Lewat tangan dinginnya, dia membawa Jawa
Timur merebut medali emas PON XIV (1996), juga perunggu bagi Indonesia pada SEA
Games XIX di Jakarta (1997).
Kim Lai mencetak rapor biru sebagai pemain dan pelatih di tingkat nasional.
Meskipun demikian, dia bermimpi memiliki klub dan gedung olahraga sendiri untuk
mencetak atlet dari kampung halamannya, Blitar.
Mimpinya sejak 13 tahun lalu itu terwujud jua. Kim Lai kini memiliki klub
basket dan gedung olahraga yang dinamai Pelangi. GOR berkapasitas 1.000
penonton itu berdiri tahun 1997 berkat donasi dan tabungan ayah empat anak ini.
GOR juga dilengkapi kantin dan mes untuk lima atlet binaannya. Kim Lai
menyokong penuh kehidupan mereka. ”Mereka berasal dari keluarga ekonomi sulit.
Saya ingin atlet miskin berani berprestasi,” ujarnya. Untuk mencari atlet, Kim
Lai tak segan masuk-keluar kampung.
Membina klub kecil adalah perjuangan sulit dengan investasi besar. Jika seorang
anak dibiayai Rp 300.000 per bulan, itu berarti Kim Lai mesti merogok kocek Rp
3,6 juta setahun. Padahal, untuk mencetak atlet setidaknya butuh waktu 4–5
tahun. Bayangkan jika ada lima anak yang dibiayai.
Ada rasa bangga Kim Lai saat dua binaan Klub Pelangi, Legal Mahardika dan Bima
Rizky, memperkuat tim basket profesional Bimasakti Nikko Steel Malang. Perpindahan
keduanya sempat bermasalah karena uang transfer pemain yang diberikan tidak
sesuai yang dijanjikan. ”Beginilah nasib tim kecil, kami bisa apa,” ujar Kim
Lai.
Anak miskin
Keuletan Kim Lai membina atlet terkait dengan kehidupan masa kecilnya. Dia anak
ke-12 dari 13 bersaudara buah pernikahan Sin Sin Sing dan Sie Gie Nio. Karena
keturunan Tionghoa, ayahnya tidak boleh bekerja formal. Untuk menghidupi
keluarganya, sang ayah menjemur kelapa, sedangkan ibunya menjual makanan
ringan.
Kemiskinan menjadi keseharian Kim Lai. Dia bersekolah tanpa alas kaki karena
tak memiliki sepatu. Sepulang sekolah, dia menjajakan stiker, layang-layang,
juga onde-onde untuk membantu keluarga. Sering kali dia dan saudaranya hanya
melahap nasi dengan garam dan parutan kelapa karena tak sanggup membeli
lauk-pauk.
Segala kesulitan hidup terasa lenyap saat Kim Lai mengenal basket. Dia
menemukan hal yang membuat hidupnya berarti. Secara sembunyi-sembunyi dia
berlatih dengan klub Sahabat agar tidak ketahuan orangtuanya. Di pikiran ayahnya,
olahraga tidak menjamin kesejahteraan.
Tetapi, tekad Kim Lai sudah bulat. Memasuki usia 16 tahun, dia mendaftar ke
klub basket Halim Kediri yang berjarak 63 kilometer dari Blitar. Setiap hari
dia bolak-balik Blitar-Kediri hingga sering kali pulang larut malam karena
menunggu kendaraan umum.
Hati orangtuanya luluh melihat kesungguhan Kim Lai. Masuk ke klub Halim Kediri
pun membuka kesempatan yang lebih luas bagi kelanjutan kariernya. Kecanduan
akan basket begitu kuat, sampai dia lupa bagaimana mempersiapkan masa depannya
sendiri.
Kegelisahan itu meruyak saat kariernya tengah berada di puncak. Seusai SEA
Games 1979, Kim Lai berniat mundur selamanya dari basket. ”Ini Indonesia. Kita
jadi atlet bisa makan apa?” kenangnya.
Kala putus asa itulah, penolong datang tanpa diduga. Seorang pembina basket
memberinya modal satu kilogram emas tanpa mengharapkan imbalan. Emas itu
diuangkan dan dipakai untuk membuka toko alat-alat olahraga bernama Toko Sport
12, di Jalan Tanjung, Blitar.
Toko yang berdiri di tepi jalan itu dulu hanya berukuran 6 x 6 meter, dan
sekaligus menjadi tempat tinggalnya. Dengan bantuan istrinya, yang juga mantan
atlet, Oenarni Tjakrakusuma, toko itu bertahan.
Bukan sekadar nama
Di antara saudaranya, hanya Kim Lai yang tidak mengubah namanya. ”Saya percaya,
nasionalisme bukan sekadar nama, tetapi bagaimana kita bekerja dan berkarya,”
ujar penyuka kesenian wayang kulit ini.
Kim Lai teringat sang ayah yang berjuang dengan caranya sendiri agar
keluarganya bertahan hidup. Perjuangan itu yang diteruskan Kim Lai melalui
olahraga basket. Dia mendorong keempat anaknya untuk mencintai negeri ini
dengan cara berprestasi. Putrinya, Ivonne Febriani Sinatra, meraih perak dalam
ASEAN School Sport Games 2009 di Thailand.
Di mata Kim Lai, melalui olahraga seorang warga negara dari etnis dan kelas
sosial mana pun berkesempatan sama untuk berprestasi.
Katanya, sistem pembinaan olahraga di Indonesia kini seperti menjadi milik
pengurus elite yang hanya ”menumpang hidup” dari organisasi. Banyak pengurus
olahraga yang lebih banyak berbicara ketimbang bekerja.
Kim Lai selalu bersikap vokal dan kritis terhadap kebijakan olahraga sehingga
banyak orang yang tidak menyukainya. Seorang pengurus olahraga juga pernah
menegurnya karena dia dinilai terlalu jujur. ”Saya katakan, kalaupun sikap
jujur saya akhirnya membentur tembok, saya memilih untuk membentur dan
menembusnya,” katanya.
Kekerasan hati ini yang justru mendorong Kim Lai melakukan hal-hal nyata. Meski
banyak yang melupakannya, orang-orang di Kota Blitar mengenalnya dengan baik
sebagai ”pahlawan kota” yang senang nyeker ke
mana-mana.

0 komentar: